AYAH

Posted on 9 July 2011

8


ayah


Tiba- tiba ingat ayah hari ini (8/7/11). Saya dan keluarga besar memanggil KAKEK kami, ayah dari mama, dengan sebutan AYAH. Entah kenapa, saat isya tadi saya tiba-tiba rindu dengan ayah. Rindu yang “aneh”, kuat dan mampu membuat kelenjar air mata saya bekerja😦

Saya sebenarnya tidak begitu lama mengenal beliau, karena beliau sudah berpulang ketika saya berumur 8 atau 9 tahun. Cerita-cerita dari mama, amak (nenek), paman dan bibi saya lah yang menguatkan karakter Ayah dalam benak saya. Beliau adalah orang yang berani dengan hobi yang mulia, yaitu mengajar. Beliau berjuang sangat keras agar berdiri sebuah masjid di lingkungannya di Muara Labuh dan beliau dicintai ketika menjadi datuak. Datuak Rajo Gunuang Padang, itulah gelar beliau.

Namun sewaktu saya kecil, ayah sebenarnya sosok yang membuat saya segan setengah mati😀 Walaupun beliau sering bercanda dengan cucu-cucunya, tapi ayah tetap sangat dihormati. Mungkin hal ini yang membuat saya merasa agak susah untuk lebih dekat. Tapi suatu ketika, ketika saya berumur sekitar 8 tahun, saya dan ayah sedang berdiri di pinggir jalan raya, di depan pintu gerbang komplek perumahan PLN di Padang Panjang, tempat tinggal saya waktu itu. Kita jalan-jalan dari rumah sampai ke gerbang, saya tak begitu ingat apa persisnya yang kita lakukan waktu itu. Tanpa sadar ketika ayah ada di belakang saya, saya tiba-tiba mengalungkan tangan ayah dari belakang melalui pundak dan leher saya. Saya nyaman sekali, dan sepertinya ayah membiarkan saja saya berlaku seperti itu. Sesaat yang nyaman itu, saya lupa kalau yang mengalungkan tangan dari belakang adalah ayah. Ketika saya sadar, saya langsung melepaskan tangan ayah dan kembali berlaku biasa karena segan. hehe.

Satu kebiasaan setiap ayah menginap di rumah saya adalah, setiap habis shalat magrib, saya harus ke kamar ayah untuk diajar mengaji. Sering sekali saya malas untuk hal ini, sering mencari-cari alasan, yang gagal, dan akhrinya tetap saja menjalaninya. Apalagi ayah waktu itu tidak peduli kalau saya masih di tahap iqra’, beliau langsung saja mengajarkan saya baca alQuran. Terbata-batalah saya membacanya. Namun yang aneh adalah, sesegan apapun saya pada ayah, tak pernah sekalipun beliau memarahi saya. Semalas apapun saya mengaji, tetap saja setelah mulai mengaji, hilanglah semua rasa malas tadi. Seberat apapun untuk ke kamar ayah, tetap saja waktu berjalan sangat cepat ketika saya diajar.🙂

Namun waktu akhirnya mengijinkan masa tua menyusul semangat beliau. Beliau mulai sering sakit dan keluar masuk rumah sakit. Tetap saja, umur saya waktu itu, belum mengijinkan saya untuk mengerti dan bersedih. Ketika sakit beliau semakin parah, beliau semakin lama menginap di rumah sakit. Satu momen yang saya ingat adalah, ketika kondisi beliau sedang kurang baik, anggota keluarga yang mengelilingi beliau waktu itu mengguratkan kesedihan di wajah-wajah mereka. Pada saat itu ayah menanyakan dan memanggil saya. Otomatis semuanya menyuruh saya mendekat. Dengan perasaan tak enak, umur masih jadi excuse saya disini, saya mendekati beliau. Tak ada pesan khusus yang saya ingat, hanya tangan-tangan lemah yang mengalirkan sayang berlimpah ketika menyentuh kepala saya.  Anggota keluarga yang wanita di sekitar saya mulai menangis melihat kejadian itu. Saya tidak begitu mengerti.

Saya hanya ingat ketika mama pulang dari Padang membawa kabar itu, saya ikut sedih, tapi belum mengerti artinya kehilangan. Padahal kakak sepupu saya menangis seketika saat mendengarnya. Saya masih ingat ketika rumah ayah di kampung dipenuhi orang-orang yang takziah dan banyak sekali orang yang tidak saya kenal menangisi kepergian beliau.

Seiring waktu, cerita-cerita tantang ayah banyak sekali saya dengar dari keluarga. Ketegasan beliau yang tidak bisa ditawar, terutama soal kehormatan dan pergaulan anak-anaknya yang mayoritas perempuan. Tapi dibalik ketegasannya, tak sekalipun beliau memukul anak-anaknya. Keberanian beliau pada zaman PRRI, sampai-sampai beliau jadi salah satu orang yang dicari-cari oleh tentara PRRI saat itu karena beliau tidak mau begitu saja mengikuti perintah-perintah mereka. Sampai cerita tentang gigi beliau yang sehat selalu, karena tidak pernah makan yang macam-macam dengan berlebihan😀

Cerita demi cerita semakin menguatkan image beliau di benak saya. Dan suatu ketika, saat saya sudah cukup dewasa untuk memahami semuanya, saya dan keluarga besar ziarah ke makam beliau. Setelah membersihkan makam beliau, sambil berdoa, entah kenapa mata saya jadi basah dan tak lama, aliran deras berpacu keluar. Kenangan yang tertanam membuat rasa rindu saya membuncah. Keluarga agak heran melihat saya seperti itu, tapi mereka juga ikut terbawa kesedihan.

Cerita keluarga tentang ayah yang menyayangi saya, bahwa ayah sangat ingin melihat cucu laki-laki satu-satunya dari anak-anak perempuannya, tumbuh dewasa, bahwa ayah berharap sangat tinggi kepada saya, membuat kasih sayang ayah semakin saya rasakan walaupun beliau sudah tidak berada disini.

Ya Allah, Ya Rahim, Ya Ghaffar, ampunilah segala dosa-dosa ayah, terimalah segala amal kebaikan ayah. Berikanlah ayah kelapangan di alam barzah, jauhkanlah ayah dari segala siksa-Mu. Dan kumpulkanlah kami semua nanti di surga-Mu… Aamiin…aamiin…ya Rabbal ‘aalamiin…

Posted in: Mellow, My angle