(Kaya) * (Mudah) + (Miskin) * (Susah) = Ujian ( Sabar + Syukur)

Posted on 3 June 2011

4


kaya miskin



Khutbah Jum’at ini mengingatkan saya kembali tentang sabar dan syukur. Dari surat Al-Fajr ayat 15-16, bahwa pola pikir orang kafir adalah mengukur kemuliaan dan kehinaan berdasarkan materi yang dimilikinya. Manusia sering berfikir kalau hartanya banyak, berarti Tuhan memuliakannya, dan jika hartanya sedikit, berarti Tuhan menghinakannya. Padahal kekayaan, kemiskinan, kesulitan dan kemudahan, semuanya adalah ujian dari Allah Swt. Ujian apakah kita akan menghadapinya dengan sabar dan syukur, atau malah dengan sikap-sikap yang akan merugikan kita sendiri?

Berikut tafsir surat Al Fajr ayat 14-16 dari tafsir Fi Zhilalil Qur’an oleh Sayyid Quthb.

Pola pikir kafir: Mengukur Kemuliaan dan Kehinaan dengan materi

“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”. (Al Fajr: 14)

Dia melihat, menghitung, memperhitungkan dan akan memberi balasan, sesuai timbangan yang cermat dan tak pernah salah. Dia tidak pernah dan tidak akan berbuat aniaya. Dia tidak menghukumi sesuatu berdasarkan lahiriahnya, melainkan menurut hakikatnya. Sedangkan manusia, maka pertimbangannya sering keliru, dan ukurannya sering melenceng. Mereka hanya melihat fenomena lahiriah saja, tidak berhubungan dengan timbangan Allah,

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.” (al-Fajr: 15-16)

Demikianlah pandangan manusia terhadap ujian-ujian yang diberikan Allah yang berupa kelapangan dan kesempitan, kekayaan dan kemiskinan. Manusia diuji-Nya dengan kenikmatan dan kemuliaan, dengan harta kekayaan dan atau kedudukan. Akan tetapi, ia tidak mengerti kalau itu ujian, yang kelak akan dipertanggung jawabkan. Ia mengira bahwa rezeki dan kedudukan ini sebagai indikasi yang menunjukkan bahwa ia berhak mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, dan sebagai pertanda bahwa Allah telah memilihnya. Lalu, ia beranggapan bahwa ujian itu sebagai balasan, dan ia mengukur kemuliaan di sisi Allah itu dengan diberikan-Nya kehidupan seperti ini.

Ada kalanya Allah menguji manusia dengan menyempitkan rezekinya. Lantas, ia mengira bahwa ujian semacam ini sebagai balasan dan dianggapnya sebagai hukuman. Ia memandang kesempitan rezeki itu sebagai indikasi kehinaan di sisi Allah. Karena, pikirnya, kalau Allah tidak menghinanya, tentu Dia tidak akan menyempitkan rezekinya.

Ternyata pola pikir dan pengukuran semacam ini adalah salah. Karena, kelapangan atau kesempitan rezeki itu hanyalah ujian dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Apakah ia mensyukuri nikmat itu atau menyombongkan diri, bersabar atas ujian itu atau berkeluh kesah? Adapun balasannya nanti bergantung pada sikap yang dimunculkannya. Namun, diberikannya kekayaan dunia atau dihalanginya untuk mendapatkannya itu bukan balasan.

Nilai seseorang di sisi Allah tidak berhubungan dengan kekayaan dunia yang dimilikinya. Keridhaan atau kebencian Allah tidak ditunjuki oleh perolehan kekayaan atau keterhalangan mendapatkannya di dunia ini. Karena Dia memberi rezeki kepada orang yang saleh atau durhaka. Dia juga menghalanginya dari orang shaleh dan durhaka. Akan tetapi, di belakang semua itu, ada hal yang harus diperhatikan. Yaitu, bahwa Dia memberi rezeki adalah untuk menguji dan menghalangi (tidak memberi) itupun untuk menguji. Adapun yang perlu mendapatkan perhatian di sini adalah hasil ujian tersebut.

Hanya saja, ketika hati manusia kosong dari iman, maka ia tidak mengerti hikmah penghalangan dan pemberian itu, dan tidak mengerti hakikat nilai dalam timbangan Allah. Apabila hatinya penuh dengan iman, maka ia akan selalu berhubungan dengan Allah dan mengerti apa yang ada di sana. Sehingga, kekayaan dunia yang tak berharga ini terasa rendah nilainya menurut timbangannya. Ia sadar bahwa di belakang ujian ini akan ada balasan. Sehingga, ia akan tetap beramal saleh baik ketika mendapat kelapangan rezeki maupun ketika rezekinya sedang sempit. Hatinya merasa mantap terhadap qadar Allah dalam kedua keadaan itu. Tahu pulalah ia bahwa harga dirinya dalam timbangan Allah bukan dengan nilai-nilai lahiriah yang hampa ini.

Sumber: Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an, Sayyid Quthb

Posted in: Islam, Lesson, Re-Post