Perbuatan menguatkan kata berlipat ganda

Posted on 24 May 2011

0


Mengajak


Ketika seseorang ingin menyampaikan kebaikan, tentu saja ia harus (berusaha) mempunyai kelebihan kebaikan tentang yang dia sampaikan dibanding si penerima. Memang tidak selalu harus “punya” seluruhnya terlebih dahulu sebelum menyampaikan, karena kadang perjalanan adalah tempat belajar yang baik. Tapi menyampaikan hal yang sudah diterapkan terlebih dahulu akan membuat apapun yang disampaikan menjadi lebih “kuat”.

Contoh yang “kurang kuat”😀

Jika seorang ingin mengajarkan tentang kesabaran, tentu saja ia harus mempunyai, atau paling tidak sedang berusaha meningkatkan kesabaran terlebih dahulu, minimal kesabaran dalam menyampaikan dan memahamkan si penerima tadi.

“Kang, saya susah sekali untuk sabar. Gimana sih caranya kang?”

“Ya harus dicoba”

“Udah kang, tapi tetap tidak bisa”

“Makanya dicoba terus!” (mulai emosi)

“Berat kang, kayanya saya ga bisa deh”

“Iya, kamu sih. Belum dicoba udah kaya gitu, ya ga mungkin bisa!” (mukanya belipet sambil setengah berteriak)

“Kalo akang dah bisa sabar?”

“Kalo saya sih udah dari dulu sabar”.(bangga)

“Ooo, jadi kalo sabar muka kita jadi belipet kayak jeruk purut ya kang?”

“ (-_-‘) “

Contoh “kurang kuat” lain, jika kita ingin mengajarkan tentang keikhlasan, maka secara tidak langsung, kita dituntut untuk ikhlas, terutama saat menyampaikan pengajaran tadi.

“Ikhlas itu berat ya kang?”

“Memang harus dilatih sih, insyaAllah akan terbiasa”

“Gimana ngelatihnya kang?”

“Ya harus dilakukan terus-menerus”

“Kalo akang dah bisa ikhlas?”

“Ya, kalo saya sih dah sering ikhlas. Saya ga minta apa-apa ketika saya ngebantuin teman kemaren beli motor. Saya juga pas ada kegiatan kemaren, kerja sendiri aja, ikhlas aja. Padahal semua pada nyantai, tapi tetap saya ikhlas aja. Kemaren saya juga shadaqah 100 ribu, Ga ada yang tau. Soalnya saya ikhlas sih”.

“O.. gitu ya kang?” (-_-‘)

Ya begitulah, ketika seseorang ingin berbuat kebaikan di posisi pemberi, maka mau tidak mau ia harus (berusaha) mempunyai kemampuan untuk berbuat lebih. Ketika ingin mengajarkan keikhlasan, maka harus berusaha ikhlas dulu. Ketika ingin menyebarkan aroma kesabaran, tentu saja ia harus menumbuhkan bibit kesabaran dulu di dalam relung hatinya.

Beraaat sih, saya juga masih berusaha belajar menguatkan. Semoga Allah memudahkan usaha kita.

Wallahu’alam

Tagged:
Posted in: Hikam, Lesson, My angle