KulTwit @Salim A. Fillah: Belajar dari Cina

Posted on 19 May 2011

0


To-study-hard-and-change-their




1. Adalah sebuah kisah dalam Azwaajul Khulafaa’ karya Raji Kinas yang mula-mula membuat saya bersemangat mengumpulkan pustaka tentang #Cina.

2. Ceritanya tentang Abu Ja’far Al Manshur, sang pembangun Baghdad. Inilah Raja dalam Islam yang amat drastis sukarnya ditemui rakyat.

3. Tentu itu terkait dengan bagaimana ‘Abbasiyah menegakkan kekuasaan lewat pertumpahan darah, tata-kota Baghdad, & pribadi Sang Raja.

4. Yang pertama telah banyak diulas Tarikh tepercaya. Yang kedua; tersebut dalam Tarikh, tinggi benteng terluar Baghdad mencapai 40 m.

5. Benteng Baghdad melingkar berjejari 20 mil. Lebar bagian atas bisa dilewati 3 kereta perang berjajar. Di dalamnya ada 3 lapis lagi.

6. Baghdad di zaman Abu Ja’far ini kota terbesar di dunia berpenduduk +/- 3 juta jiwa. Terbesar ke-2? Chang-an, ibukota Dinasti Tang,

7. Tentang pribadi Abu Ja’far Al Manshur sendiri, mari kita cukupkan ringkasan kisah yang dibawakan Imam Malik RhmhuLlah berikut ini.

8. “Pada suatu musim haji, aku dipanggil paksa menghadap Al Manshur”, ujar beliau, “Bersama Abu Hanifah & Ibn Thawus Al Yamani.”

9. “Al Manshur menyuruh kami bicara satu per satu”, lanjut Malik. Dalam kisah itu beliau sebutkan kalimat masing-masing nan panjang.

10. Intinya; beliau & Abu Hanifah bicara secara umum & datar-datar sebab rasa takut akan kebengisan Al Manshur. Tapi Ibn Thawus beda.

11. Nyaris memerinci kejahatan & kezhaliman Al Manshur, Ibn Thawus memberikan nasehat & peringatan yang amat gamblang & keras padanya.

12. Nah, perhatikan ungkapan Imam Malik ini; “Saat Ibn Thawus bicara, aku & Abu Hanifah bergeser sambil merapat-rapikan pakaian kami.”

13. Mengapa? “Karena”, ujar Imam Malik, “KAMI KHAWATIR KECIPRATAN DARAHNYA!” Nah, ini gambaran tentang watak Al Manshur yang dahsyat.

14. Kata Malik, “Tapi Allah menjaga Ibn Thawus, justru Al Manshur gemetar oleh nasehatnya. Aku jadi semakin hormat pada Ibnu Thawus.”

15. Nah, kisah yang saya maksud dalam Azwaajul Khulafaa’ adalah tentang seorang Arab Badui pengembara yang dihadapkan pada Al Manshur.

16. Lelaki ini diminta Al Manshur untuk mengisahkan perjalanannya ke berbagai negeri, demi menyimpulkan “Tiada yang semegah Baghdad.”

17. Lelaki ini -seperti umumnya Badui yang polos- blak-blakan bahwa Baghdad memang megah, tapi angker, & rajanya sulit ditemui rakyat.

18. Sementara dia cerita tentang ibukota #Cina, mungkin maksudnya Chang-an; kotanya tertata rapi & Kaisarnya sudah tua, namun bijaksana.

19. Si Badui dengan semangat bercerita bahwa ketika makin tua, Kaisar mulai kehilangan daya dengarnya. Dia mulai tuli. Dia bersedih.

20. Para menteri & penasehat menghibur. “Apapun yang terjadi, Yang Mulia tetap Kaisar kami nan bijak, mohon Baginda jangan bersedih.”

21. “Aku sedih bukan ratapi diriku”, ujar Kaisar, “Aku penuh sesal sebab kini tak lagi bisa dengarkan secara langsung keluhan rakyat!”

22. Sejak itu, Sang Kaisar yang rajin bertandu mengelilingi negeri ini memutuskan untuk tak memegang pemerintahan secara langsung.

23. Dia mengangkat menteri kepala (Chen Xiang) yang diberi keleluasaan menjalankan pemerintahan namun berada di bawah pengawasannya.

24. Menteri Kepala dipilih secara meritokratis melalui ujian yang diselenggarakan bertingkat; dari distrik, provinsi, hingga nasional.

25. Demikianpun berjenjang ke bawah; para menteri, para gubernur, bupati, & hakim wilayah diangkat berdasar peringkat dalam ujiannya.

26. Lalu apa yang dikerjakan sang Kaisar? Dia makin rajin mengelilingi negeri untuk mendengarkan keluhan rakyat & menyemangati mereka.

27. Sebab pendengarannya lemah, Kaisar menitahkan agar tiap yang ingin mengadu mengenakan pakaian merah & menyiapkan aduan tertulis.

28. Atas titahnya, tim khusus kekaisaran akan menindaklanjuti tiap aduan sesuai tingkat pengambil kebijakan; dari desa hingga pusat.

29. Kaisar menyampaikan pidato nan menyemangati rakyat, memberkati mereka di tempat-tempat peribadatan, mendorong kerja keras & bakti.

30. Apa yang dilakukan sang Kaisar ini menginspirasi rakyat, membuat pemerintahan tertata, & membawa kejayaan bagi Dinasti Tang.

31. Nah, simpul si Badui pada Al Manshur, Amirul Mukminin tentu lebih berhak melakukan semua hal indah itu daripada sang Kaisar #Cina itu.

*)sumber: http://twitter.com/salimafillah

Tagged: , ,
Posted in: Hikam, Lesson, Re-Post