Supir angkot menyebalkan??????

Posted on 15 April 2011

6


angkot


from facebook note by Yandri Mahaldy Z on Wednesday, November 25, 2009 at 7:25am

sumber

Bagi pemilik kendaraan bermotor, mau mobil atau motor, salah satu hal yang biasanya menyulut emosi di jalanan adalah angkot yang suka berhenti sembarangan. Kalau tidak hati-hati di belakang angkot, bisa-bisa ngerem mendadak atau bahkan tabrakan. hmmm

Tapi apa sih sebenarnya yang membuat hal tersebut terjadi? Apa benar ini murni kesalahan si supir?

Oke lah, pertama memang “the man behind the wheels”, mental si supir untuk mengejar setoran sebanyak2nya menghasilkan manuver2 luar biasa layaknya “Lewis Hamilton” dengan sirkuit jalan raya. Masalahnya korbannya adalah para pengguna jalan yang tidak “bercita-cita” menjadi pembalap formula 1.

Faktor di atas masih bersifat subjektif, karena saya belum pernah jadi supir angkot. Tapi setelah dilihat dengan mata lebih terbuka, ada beberapa penyebab lagi yang membuat hal tersebut terjadi.

Penumpang angkot. Para penumpang angkot sebenarnya juga menjadi faktor penting dalam “kejahatan” jalan raya ini. Penumpang sering sekali menyetop angkot di lokasi yang seharusnya angkot tidak boleh berhenti di sana. Penumpangpun sering minta berhenti secara mendadak di tempat ramai, dan akan ngomel kalau angkot berhenti agak kejauhan dari tempat yang diinginkan.

Polisi. Polisi yang kecapean mengatur “bandel”nya para pengguna jalan. Ditambah oknum polisi yang mempersulit proses penilangan, sehingga hanya sedikit kendaraan yang bisa ditertibkan.

Juragan angkot. Juragan angkot meminta setoran yang tidak sebanding dengan jumlah angkot dan banyak penumpang. Jadilah perlombaan perburuan penumpang.

Pemilik kendaraaan pribadi. Pemilik kendaraan pribadi yang semakin banyak, membuat para supir angkot kekurangan penumpang.

Pemerintah. Pada akhirnya pemerintah juga kena. Fasilitas umum yang tidak nyaman, kendaraan umum dan fasilitas seperti halte. Izin membeli kendaraan yang terlalu mudah tidak sebanding dengan kapasitas jalan yang tersedia. Kurang tegas terhadap oknum kepolisian dan jasa angkutan.

Ya begitulah, mungkin subjektif, mungkin tidak. Yang pasti ternyata tidak semua keburukan yang terjadi murni kesalahan satu pihak saja. Dibutuhkan keinginan untuk menjadi lebih baik dari berbagai pihak, terutama diri sendiri. Harapan itu masih ada….

Apakah anda sudah menjadi bagian dari solusi? atau masih menjadi bagian dari masalah?

Tagged:
Posted in: Hikam, Lesson, My angle