Apakah kita harus menunggu “musuh” yang lebih besar datang terlebih dahulu?

Posted on 2 April 2011

0


persatuan ok


Bismillah

Musuh yang lebih besar dan kuat, kadang membuat persatuan menjadi lebih mudah.

Komik-komik (sering baca komik :D) yang pernah saya baca dulu mempunyai beberapa kesamaan ketika berhubungan dengan rival.

Suatu ketika sang jagoan bertarung menghadapi rival terberatnya. Pertarungan hidup-mati pun terjadi. Singkat kata akhirnya sang jagoan menang, tapi rivalnya tidak tewas (ya, namanya juga rival :D).

Masa damai yang lewat beberapa saat akhirnya terhentak dengan munculnya musuh baru yang jauh lebih tangguh. Karena ketangguhannya, si jagoan pun kesusahan melakukan perlawanan. Nah, disinilah kembalinya muncul sang rival. Rival ini membantu jagoan, dengan berbagai alasan, untuk mengalahkan musuh baru ini. Ya, akhirnya mereka bersatu berjuang dan kalahlah si musuh baru tadi.

Bisa dianalogikan ke negara kita atau agama kita. Sepakbola adalah contoh termudah. Ketika pertandingan antar klub di Liga Super Indonesia, sangat banyak terjadi bentrokan antar supporter, namun liat saja ketika yang bertanding itu adalah timnas Indonesia. Supporter dari seluruh penjuru Indonesia bersatu-padu mendukung mereka. Lupa deh perseteruan viking dengan the jak, atau aremania sama bonek.

Contoh kedua adalah masalah klaim-klaiman dan batas teritorial negara. Masalah batas kampung atau teritorial tanah, atau mungkin sebuah pohon dan sebutir buah bisa berkembang jadi tawuran atau tuntut-menuntut di pengadilan.  Namun ketika ada negara lain mengganggu batas negara atau merebut kekayaan budaya bangsa ini, maka seluruh rakyat akan bersatu untuk mempertahankannya.

Contoh ketiga adalah umat Islam. Sebagian dari kita masih sibuk mempermasalahkan perbedaan-perbedaan kecil yang bisa dikompromikan. Gerakan sunnah dalam shalat, metode dakwah, prioritas ibadah dan sebagainya. Sebagian besar dari hal-hal tersebut sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan ketika masih berada di rute aqidah yang lurus.

Padahal musuh Islam sebenarnya “tergeletak” di depan mata. Mulai dari yang terang-terangan memerangi saudara-saudara seiman, sampai yang terselubung mengikis pemikiran.

Musuh yang lebih kuat atau tujuan yang lebih besar sudah ada di luar sana. Buat apa kita menghabiskan tenaga menyalahkan orang-orang yang sama-sama berjuang, apalagi kalau sampai berujung ghibah dan fitnah. Yang tertawa malah musuh yang sebenarnya. Mereka mungkin berfikir,”Untuk mengalahkan Indonesia atau Islam, cukup tiupkan saja api perbedaan dan siramkan bensin kedengkian, ga perlu pake perang-perang segala. Nanti mereka juga akan saling menghancurkan diri sendiri, dan kita bisa menonton dengan tenang sambil makan popcorn” (lebay..hehe).

Apakah kita akan menunggu musuh menyerang dulu, baru memikirkan persatuan dan husnudzan?

Kalau kita memang merasa lebih benar dan lebih hebat, tunjukkanlah dengan cara elegan. Beri contoh dan berbuat. Tak usah habiskan waktu dengan mengkritik dan menjelekkan orang lain. Persatuan itu akan datang ketika kita fokus terhadap musuh atau tujuan yang lebih besar. InsyaAllah

Wallahu’alam

Tagged: ,
Posted in: Hikam, Lesson, My angle