Perspektif Objektif…

Posted on 28 March 2011

0


bom-compare


Bismillah…

 

Ada seorang maling yang melakukan shalat. Apakah shalatnya jadi salah karena ia seorang maling? Atau perbuatan malingnya jadi benar karena ia melakukan shalat?

 

Ada orang atau lembaga yang memakai niat dan dasar yang benar, tapi memakai cara yang salah, ada yang memakai cara yang benar tapi niatnya salah, ada yang dua-duanya benar dan ada yang dua-duanya salah.

Objektivitas dibutuhkan untuk menarik kebenaran dan hikmah dari segala hal. Ketika kita terlalu fanatik terhadap sesuatu/seseorang, kebutaan akan melanda kita saat ia melakukan kesalahan. Begitu juga sebaliknya, ketika kita terlalu membenci sesuatu atau seseorang, mata lemah kita akan tertutup walaupun ia melakukan kebenaran.

Ada beberapa contoh yang bisa diambil.

 

Ahmadiyah

Mereka memakai alasan kebebasan beragama, dan hak azazi manusia yang berlandaskan undang-undang. Teman-teman kita yang tidak melihat masalah ini secara menyeluruh, tentu saja akan ikut-ikutan membela. Apalagi ketika ada sebagian umat yang sudah tidak sabar dengan ketidakjelasan perlakuan terhadap ahmadiyah, dan mulai menggunakan kekerasan.

Jadi, kekerasan terhadap siapapun tidak bisa dibenarkan. Tapi pelecehan terhadap agama yang mempunyai penduduk terbanyak di negara ini juga merupakan pelanggaran hak azazi dan undang-undang. So.. kekerasannya silahkan diproses oleh yang berwajib, namun pelecehan agama oleh ahmadiyah juga harus ditindak segera dan dicarikan jalan keluar.

 

FPI

Front Pembela Islam sudah beberapa lama menjadi kontroversi di negara ini. Masalah kekerasan yang terjadi mungkin tidak perlu diperdebatkan lagi. Tidak ada yang setuju dengan kekerasan, bahkan mungkin FPI pun tidak suka dengan kekerasan. Namun niat perjuangan FPI belum tentu salah, karena hampir semua yang mereka perjuangkan punya alasan yang benar. So.. kekerasan silahkan ditindak oleh yang berwenang, tapi ahmadiyah, lokalisasi prostitusi dan sebagainya, harus disikapi dengan tepat juga. Karena hal tersebut bukan hanya meresahkan FPI, tapi seluruh masyarakat yang bermoral dan mencintai Tuhannya.

 

Mesir, Libya, AS, Israel dan Palestina

Pemimpin Mesir dan Libya memang sudah jelas kediktatorannya. Rakyat mereka lah yang paling merasakannya. Kita pasti mendukung kejatuhan dari kesewang-wenangan dan ketidak-adilan. Nah, untuk kondisi dunia yang sekarang, setiap negara mempunyai kedaulatan masing-masing yang tidak bisa sembarangan diganggu atau dilecehkan. Maka bentuk dukungan luar negeri adalah pernyataan sikap pemerintah, pengiriman pasukan perdamaian dan diplomasi, sisanya pengaruh paling besar adalah sekuat apa keinginan bangsa tersebut untuk merubah bangsanya sendiri. Penyikapan internasional pun harusnya melalui wadah bersama seperti PBB, OKI dsb.

Oleh sebab itu, negara-negara lain tidak bisa sembarangan mengeluarkan kebijakan dan mengirimkan pasukan untuk membela salah satu pihak. Coba bayangkan, kalau hal tersebut terjadi di Indonesia. Misalkan saja, saat kerusuhan ‘97 dulu pesawat-pesawat AS dan sekutunya membom Jakarta. Wuih, tak terbayang korban yang akan bertambah sia-sia.

Apalagi kalau jelas-jelas negara-negara tersebut bertindak untuk kepentingan sendiri (minyak-red). Kalau tidak, kenapa AS dan sekutunya tidak membom Israel yang sudah demikian jelas menguliti palestina hidup-hidup? Kalau atas nama HAM, kenapa mereka tidak berani membela HAM rakyat Palestina yang sudah terinjak-injak.

So, jelas lah. Kediktatoran dan kesewenang-wenangan harus ditentang. Tapi intervensi militer dan penyerangan kedaulatan negara lain secara sembarangan juga tidak bisa diterima.

 

Jadi, Marilah kita berusaha objektif, ambillah hikmah di setiap kesempatan, ambillah kebaikan dari setiap kejadian. Jangan selalu menghakimi dan mengeneralisir sesuatu atau seseorang secara sepihak, tanpa informasi yang benar, akurat dan lengkap. Jauhkan diri dari prasangka buruk, iri, dengki, ghibah apalagi fitnah. Bukankah perbedaan itu adalah rahmat? Bukankah warna-warna membuat indah sang pelangi?

 

Wallahu’alam

 

Posted in: My angle