Choose!!

Posted on 21 July 2010

2


choose1


Bismillahirrahmanirrahim

Yah, mungkin ini “karma” setelah menulis post “choices” di blog saya. Karena ternyata Yang Maha Mengetahui isi hati, menguji saya beberapa waktu yang lalu untuk melakukan pilihan-pilihan.

Pada Jumat itu, saya telah selesai mengambil uang untuk membayar kosan di ATM sebuah bank. Tanpa terasa sudah setahun lagi berlalu, dan uang kosan sudah harus di bayar. Setelah mengambil uang “secukupnya”, saya langsung menaiki motor saya dan bersiap berangkat. Tangan saya bergerak memutar kunci kontak dan menekan tombol starter. Sesaat setelah mesin motor saya menyala, ketika saya sedang menengok ke belakang untuk memundurkan si motor, terdengarlah suara panggilan. “Mas…Mas…!” Sambil berusaha mencari sumber “noise”, saya melihat ada seorang pria 30 tahunan keluar dari sebuah mobil sedan yang parkir tak jauh dari ATM tersebut. “Ya?” jawab saya sekenanya. Orang itu berjalan mendekati saya yang berhenti dari usaha memundurkan motor. “Ah, paling orang ini nanya apakah mesin ATM-nya berfungsi dengan baik atau tidak”. Pikir saya.

Nah disinilah “drama” itu dimulai. Sambil tersenyum si “Mas” ini bertanya kepada saya, “ Mas baru ngambil duit ya?”

“ya..mas…”Jawab saya sambil memperhatikan si “Mas”. Orangnya agak gemuk, berambut lurus-pendek-klimis, kulit sawo matang, tampangnya cukup menyenangkan, berpakaian cukup rapi dan sepertinya murah senyum, seperti yang sedang dilakukannya sekarang.

“Maaf mas, ngeganggu. Nama saya “R”. Mas siapa?”

“Yandri”

Setelah berkenalan sedikit, masuklah pembicaraan itu ke topik utamanya. Bahasa yang dipakai juga langsung Lu-Gu deh.

“Begini ndri, gua mau minta bantuannya. Gua harus ke Jakarta sekarang. Tapi uang gua benar-benar habis, bahkan buat beli bensinpun tak ada, apalagi buat tol.”

Hmm.. mulai kebaca deh arah pembicaraannya, berbagai pikiran dan kewaspadaan langsung ON.

“Gua boleh minjem duit dulu ga ndri?” Lanjutnya. “Gua bener-bener ga tau lagi harus kemana”

“Wah, duit yang saya ambil ini untuk bayar kosan saya yang udah habis mas. Gimana ya?”

“Yah, tolong lah ndri, nanti gua bayar kembali, Selasa gua ada acara lagi di Bandung.”

“Emang butuhnya berapa mas?”

“250 ribu aja deh, buat bensin sama tol”.

“Wah, banyak sekali mas, saya juga masih anak kos”.

“Gua cuma minjem beberapa hari kok, gini aja,lo pegang dulu jam tangan gua, jam gua ini asli, ada kwitansinya”.  R pun memperlihatkan jam tangannya yang “sepertinya” berlapis emas, karena saya juga tidak terlalu mengerti dunia per”emas”an, dan mengeluarkan kwitansi jam dari dompetnya. Terlihatlah disana angka 3.850.000. “Jadi lo pegang dulu jam gua, nanti selasa jam nya gua tebus, gimana? Ini KTP gua, kalo lo ga percaya”

Saya tertegun, tapi kewaspadaan tetap terjaga. Tidak ada yang salah dengan KTP-nya. Hal-hal seperti ini mengingatkan saya tentang kejadian-kejadian buruk di televisi, dan bahkan pernah dialami oleh papa saya sendiri. Unsur-unsur penipuan dan hipnotis harus diperhatikan. Itu yang saya ingat ketika nonton TV dulu.

“Hmm… Gini aja mas, gimana kalau mas saya bantu aja sebisanya, dan mas ga perlu mikir harus mengembalikannya.”

Sempat terlintas dipikiran saya, “bulan ini saya udah sadaqah dan infak berapa ya? Apa mungkin ini salah satu jalan untuk saya berinfak? “ karenanya, keluarlah tawaran tadi.

“Emang mau bantuin berapa?”

“Hmm..paling 100rb mas”.

“Wah, kurang kalo segitu ndri, berarti gua harus nyari lagi kan?”

“Yah, mas kan bisa minta bantuan teman mas yg di Bandung, masa ga punya temen di sini” balas saya.

“ Kalo punya sih, gua ga kaya gini Ndri. Ya, kalo ga bisa bantu sih ga apa-apa. Makasih Ndri.” R mulai berjalan ke arah mobilnya.

Mulailah drama berkecamuk di pikiran saya. Saya bisa saja pergi saat itu, pulang ke kosan. Masalah beres. Tapi apa kabar dengan hati saya?

Saya sudah mengevaluasi keadaan saya waktu itu. Saya sadar, ga mungkin orang yang kena hipnotis sesadar itu. Pikiran saya jernih, keputusan yang saya buatpun dengan konsentrasi tinggi. Saya juga mempertimbangkan azas “pembeli ngancem penjual” dengan pura-pura ga jadi minta tolong yang dipakai oleh R. Keputusan yang saya akan ambil sama sekali bukan karena itu. Masalah “logika” sudah beres, berarti tinggal masalah “hati”.

Sesaat sebelum R masuk ke mobilnya, saya setengah berteriak,”Mas…!”

R pun kembali mendekati saya. Saya bernegosiasi, mencoba memperkecil peluang penipuan, “Jangan 250 deh mas, 150 aja ya?”

“yah, masih ga cukup ndri. 200 aja deh”

“Hmm… ya udah, tapi jam sama kwitansinya saya pegang ya mas?

“Kwitansinya juga?”

“Ya donk mas.”

“Ya udah, tapi jangan sampai hilang ya. Saya nitip dulu jamnya.”

“InsyaAllah. Saya sekalian minta nomer HP mas ya”

“Ok, boleh. Nomernya 0813xxxxxxxx.”

Dan akhirnya transaksi terlaksana. Setelah berpamitan, saya langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. Di perjalanan, saya sempat berfikir, apakah hal yang saya lakukan adalah suatu kebodohan? Bagaimana kalau ternyata uang saya tidak dikembalikan dan jam tangannya palsu?

Tapi ada suara lain membantah. Ah, uangnya sudah diberi, sekarang serahkan semuanya sama Allah. Bagaimana jika yang membutuhkan bantuan seperti tadi adalah keluargamu sendiri? Ikhlaskan saja, kalaupun uangnya tak kembali, mungkin itu cara Allah untuk mengingatkanmu agar tak lupa sedekah. Mungkin itu harga yang harus kau bayar untuk keselamatan dirimu hingga saat ini. Mungkin itu bayaran untuk segala kemudahan yang kau dapatkan.

Teringat kisah Ustadz Yusuf Mansyur ketika rumah beliau kerampokan beberapa waktu yang lalu. Waktu itu beliau sedang pergi keluar kota bersama keluarga, dan rumah yang ditinggal ternyata dimasuki rampok. Ludeslah sebagian besar barang berharga beliau. Ketika ditanya bagaimana keadaannya, beliau menjawab, “ Yah, mungkin itu harga yang harus kami bayar untuk keselamatan kami sekeluarga selama dalam perjalanan, atau harga untuk kesehatan tubuh kami sampai saat ini”. Luar biasa sekali keikhlasan beliau dalam menghadapi musibah. Beliau tahu benar bahwa rezeki dan musibah itu semuanya dari Allah, dan langsung beliau praktekkan.

Yah, terus terang, sampai saat ini belum ada kabar dari R kepada saya. Jam tangannya masih saya simpan rapih. Sudah beberapa kali saya sms dan telfon nomer HP-nya. Tapi tidak ada respon, walaupun masih aktif dan ada nada sambungnya.

Saya mencoba berhusnudzan, mungkin saja mas R ini sedang kesusahan, atau lupa karena kesibukkannya. Yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa, semoga hidayah Allah menyertainya, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.

Ah, memang Allah akan mengambil ,dengan berbagai jalan, hak orang lain yang ada di dalam harta kita. Semoga kita semua selalu mengingat kewajiban kita untuk memberi kepada yang berhak. Sehingga bersihlah harta kita dan hati kita dari kotoran-kotoran yang melekat.

Pilihan niat kitalah yang menentukan apakah yang menentukan apakah perbuatan kita akan menjadi amal atau tidak, akan menjadi kebaikan atau tidak, akan menjadi sarana penambah pahala atau tidak.

Semoga pengalaman saya ini tidak membuat kita kapok membantu orang yang dalam kesusahan, mungkin harus lebih waspada, tapi tidak paranoid, karena Allah-lah yang akan membalas segala amal kita lewat jalan yang tidak diduga-duga.

Astaghfirullah

Wallahu’alam

Posted in: My angle