World cup 2010 dan pemuda

Posted on 16 July 2010

0


fifa wc  2010  2


Bismillahirrahmanirrahim

World cup 2010 di Afrika Selatan, yang baru saja berlalu, masih meninggalkan kesan luar biasa di hati para penikmatnya. Berbagai kekurangan, mulai dari suara vuvuzela yang mengganggu komunikasi antar pemain, bola jabulani yang dikeluhkan para pemain karena memiliki gerakan yang aneh, beragamnya karakteristik wasit yang memimpin, sampai kartu yang membanjir pada pertandingan final. Berbagai kelebihan, seperti suksesnya penyelenggaraan piala dunia untuk pertama kalinya di afrika, jumlah gol yang di atas rata-rata jika dihitung sejak babak knock out, hasil-hasil pertandingan yang sangat sulit ditebak, lahirnya juara baru dari sebuah konsistensi .

vuvuzela


jabulani


Berbagai cerita juga tersedia, Paul si gurita, timnas Perancis yang “aneh”, gelar-gelar yang mengejutkan, dan akhirnya keuntungan bisnis yang luar biasa walaupun tidak jelas siapa yang paling merasakannya.

paul si gurita


Yah, kalau hal-hal di atas dibahas semua di sini, berapa panjang jadinya tulisan ini?🙂

Sebenarnya ada satu hal menarik yang ingin saya angkat disini, bahwa ternyata anak-anak muda mempunyai peranan sangat penting pada piala dunia kali ini. Ya… ANAK MUDA!

Mari kita ulik sedikit data yang ada dari Om Wiki. Tim-tim besar yang kalah di babak-babak awal, ternyata masih mengandalkan pemain-pemain gaeknya. Italia, Inggris, Brasil, mempunyai rata-rata usia pemain sekitar 28 tahun. Argentina, Perancis, Portugal  27 tahun.

Bagaimana dengan tim empat besar? Belanda sebenarnya mempunyai pemain dengan usia rata-rata 27 tahun, tapi hal ini disebabkan adanya seorang pemain berusia 40 tahun yang tidak pernah dimainkan. Jika dikurangi satu pemain ini, maka usia rata-ratanya akan sama dengan Uruguay, yaitu 26 tahun. 25 tahun adalah usia rata-rata sang juara Spanyol. Dan pasukan termuda di tim empat besar adalah Jerman dengan 24 tahun.

Bahkan disebut-sebut bahwa kekalahan Jerman atas Spanyol di semifinal, terjadi karena tidak bermainnya seorang anak muda 20 tahun yang terkena akumulasi kartu kuning, Thomas Mueller. Mueller bersama duo Muslim Khedira (23 tahun) dan Oezil (21), memang menjadi roh permainan tim Jerman yang berpadu dengan barisan “senior” Schweinsteiger(25), Podolski(25) dan Klose(32).

Begitu pula di tubuh sang juara Spanyol. Gerard Pique (23), Sergio Ramos(24), Sergio Busquets(21), Pedro(22) dan David Silva(24) adalah barisan pemuda yang seringkali menjadi tim inti. Bahkan Gol Andreas Iniesta (26) pada perpanjangan waktu pertandingan final, berasal dari umpan sempurna seorang pemuda yang sudah lama menjadi kapten di klubnya Arsenal, Cesc Fabregas (23).

Ya, anak muda dari zaman ke zaman memang selalu menjadi kunci perubahan. Di Indonesia saja, sangat banyak kejadian-kejadian bersejarah yang dipelopori oleh anak muda. Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Proklamasi, keruntuhan orde lama dan jatuhnya rezim orde baru alias reformasi. Tanpa anak muda, tak ada satupun sejarah-sejarah di atas yang akan terjadi.

Rasulullah SAW juga mempunyai barisan pemuda di tengah-tengah sahabat setia beliau. Ali ra, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas, Usamah bin Zaid, dan lain-lain.

Anak muda biasanya mempunyai semangat tinggi, tak takut gagal, dan tak punya beban masa lalu. Inilah yang membuat mereka selalu kritis dan mendobrak.

Tokoh-tokoh bangsa 20 tahun yang akan datang akan lahir dari pemuda-pemuda hari ini. Kondisi Bangsa kita nanti, akan tergantung dari kondisi anak muda sekarang.

Mari sahabat, bersiaplah, masa depan menunggumu!

Wallahu’alam

Posted in: My angle