Posted in Video

Maher Zain – The Chosen One

Video ini membuat saya merinding, karena tingkah laku para pemerannya mencontoh sunnah rasulullah SAW…

Maher Zain
The Chosen One Lyrics

In a time of darkness and greed
It is your light that we need
You came to teach us how to live
Muhammad Ya Rasool Allah
You were so caring and kind
Your soul was full of light
You are the best of mankind
Muhammad Khaira Khalqillah
Sallu ‘ala Rasulillah, Habib Al Mustafa
Peace be upon The Messenger
The Chosen One

From luxury you turned away
And all night you would pray
Truthful in every word you say
Muhammad Ya Rasul Allah

Your face was brighter than the sun
Your beauty equaled by none
You are Allah’s Chosen One
Muhammad Khaira Khalqillah
Sallu ‘ala Rasulillah, Habib Al Mustafa
Peace be upon The Messenger
The Chosen One

I will try to follow your way
And do my best to live my life
As you taught me
I pray to be close to you
On that day and see you smile
When you see me
Sallu ‘ala Rasulillah, Habibil Mustafa
Peace be upon The Messenger
The Chosen One

Sallu ‘Aala Rasulillah, Habibi Mustafa
Peace be upon The Messenger
The Chosen One

Advertisements
Posted in Muhasabah, Re-Post

Di Atas Ranjang Kematian | dakwatuna.com

Di Atas Ranjang Kematian | dakwatuna.com.

Di Atas Ranjang Kematian

28/7/2011 | 27 Sya’ban 1432 H | Hits: 5.348

Oleh: Inayatullah Hasyim


Kirim Print
email

Ilustrasi (inet)

Kisah para tauladan menyambut kematiannya.

dakwatuna.com – Saudaraku, berikut ini kisah para Nabi dan sahabat yang mulia saat menyambut kematiannya. Kisah-kisah mereka penuh teladan, sarat pesan dan menjadi bahan renungan.

Kekasih Allah Ibrahim Allaihi Salam

Bercerita Imam Muhasabi dalam kitab “Ar-Riayah” bahwa Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim, allaihi salam:  ”Wahai kekasihku, bagaimana engkau menemukan kematianmu?” Dia berkata: Seperti tusuk besi (yang dipakai untuk membakar daging) yang diletakan di atas bulu yang basah, kemudian ditarik.” Kemudian Allah berfirman, “Sungguh (yang demikian itu) telah kami mudahkan kematian bagimu, Wahai Ibrahim.”

Nabi Allah Daud, Allaihi Salam

Diriwayatkan bahwa malaikat maut datang untuk menjemput Nabi Daud alaihi salam.  Daud berkata: “Siapakah engkau?” Dia menjawab, “kami yang tidak takut raja dan tidak mengabaikan orang-orang kecil, kami juga tidak menerima suap”. Daud berkata: “Jika demikian, anda adalah malaikat kematian?” Dia menjawab: “Ya”, Daud balik berkata: “Kok, mendadak begini, aku tidak mendapatkan pemberitahuan (terlebih dahulu)” Malaikat berkata: “Hai Daud, di mana sahabat-mu fulan? Di mana pula si fulanah, tetanggamu?” “Mereka sudah mati”, jawab Daud. “Bukankah itu pemberitahuan padamu untuk bersiap-siap.”

Nabi yang diajak bicara oleh Allah, Musa allaihi salam

Dikisahkan bahwa Nabi Musa allaihi salam ketika jiwanya berangkat menuju Allah, Allah berfirman: “Hai Musa, Bagaimana kau menemukan kematian?” Dia menjawab, “Aku mendapati diriku seperti burung hidup yang digoreng di atas penggorengan, tidak mati sehingga aku istirahat, dan tidak bertahan hidup sehingga aku terbang”. Diriwayatkan bahwa Musa berkata: “Aku menemukan diriku sebagai seekor kambing dikuliti oleh tukang daging dalam keadaan hidup”.

Ruh Allah, Isa allaihi salam.

Isa putra Maryam, allaihi salam, berkata, “Wahai kaum Hawariyin, berdoalah kepada Allah agar kalian dimudahkan pada saat syakrat (maut) ini” Diriwayatkan bahwa kematian lebih berat dari tebasan pedang, gorokan gergaji dan capitan gunting.

Rasulallah saw menggambarkan kematian kepada para sahabatnya.

Diriwayatkan dari Syahr bin Husyab dia berkata, Rasulullah saw ditanya tentang beratnya kematian? Dia (saw) bersabda, “kematian yang paling ringan adalah seperti bulu wol yang tercerabut dari kulit domba. Apakah mungkin kulit dapat keluar kecuali bersama bulu-bulunya itu?”

Abu Bakar As-shidiq, radiallahu anhu.

Ketika Abu Bakar radiallahu anhu menghadapi hari-hari kematiannya, dia sering membaca, “dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya” (Qur’an Surah: Qaaf 19).

Dia berpesan kepada Aisyah, puterinya: “Lihatlah kedua pakaianku ini, cucilah keduanya dan kafankan aku dengannya. Sesungguhnya mereka yang hidup lebih utama menggunakan baju baru daripada yang sudah jadi mayit.”

Di detik-detik menjelang kematiannya, ia berpesan kepada Umar dengan berkata, “Aku berpesan padamu dengan satu wasiat, sebab tak mungkin engkau mendahuluiku. Sesungguhnya Allah Maha Benar dengan tidak pernah membuat malam mendahului siang, dan siang tak pernah mendahului malam. Sesungguhnya, tidak diterima ibadah-ibadah sunah, jika yang wajib tak ditunaikan. Dan, akan diberatkan timbangan (kebaikan) di akhirat bagi mereka yang menunaikan hak-hak di dunia. Dan akan diringankan timbangan (kebaikan) seseorang di akhirat jika diikuti dengan kebatilan.

Umar bin Khathab, radiallahu anhu.

Ketika Umar bin Khattab ditusuk oleh seseorang, Abdullah bin Abbas datang menjenguknya, dia berkata: “Engkau telah masuk Islam saat orang-orang (lain) masih kafir. Dan engkau selalu berjihad bersama Rasulallah SAW saat orang-orang (lain) malas. Saat Rasulallah SAW wafat dia sudah ridha denganmu”. Umar kemudian berkata, “Ulangi ucapanmu!” Maka diulang kepadanya. Dia kemudian berkata, “celakalah orang yang tertipu dengan ucapan-ucapanmu itu.”

Abdullah bin Umar, puteranya, berkata: waktu itu kepala ayahku di pangkuanku, saat sakit menjelang kematian. Ayah berkata, “letakan kepalaku di atas tanah!” Aku menjawab, “Bagaimana ayah, apakah tidak sebaiknya di atas pangkuanku saja.” “Celaka kamu, letakan di atas tanah.” Ayah setengah membentak. Kemudian, Abdullah bin Umar meletakannya di atas tanah. Umar berkata, “Celaka aku, celaka juga ibuku, jika Tuhanku tidak menyayangi aku.”

Ustman bin Affan, radiallahu anhu.

Setelah ditusuk oleh orang-orang yang memberontak, hingga darah mengalir ke janggutnya, Ustman berkata, “Tidak ada Tuhan selain Engkau (ya Allah), Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah, aku memohon perlindungan-Mu, dan pertolongan-Mu atas segala persoalanku, dan aku memohon pada-Mu diberikan kesabaran atas ujian ini.”

Setelah ia akhirnya wafat, para sahabatnya membuka lemari yang terkunci. Mereka mendapatkan satu kertas yang tertulis begini: “Bismillahirrahman ar-rahim, Ustman bin Affan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tak ada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Dan bahwa syurga adalah benar (adanya). Dan bahwa Allah kelak akan membangkitkan setiap yang dikubur pada hari yang tidak ada lagi keraguan padanya (kiamat). Sesungguhnya Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Atas nama-Nya kita hidup, atas nama-Nya kita mati dan atas nama-Nya pula kita akan dibangkitan, insya-Allah.”

Ali bin Abi Thalib, radiallahu anhu.

Setelah ditusuk, Ali radiallahu anhu berkata: Apa yang sudah dilakukan terhadap orang yang menusukku? Mereka menjawab, “kami telah menangkapnya”. Ali berkata, “Beri makan dan minum dia dengan makanan dan minumanku. Jika aku hidup, aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Jika aku mati, maka pukulah dia sekali pukul saja, jangan kalian tambahkan sedikitpun.”

Kemudian Ali berpesan kepada Hasan, puteranya, agar memandikannya. Ali berkata, “Jangan berlebih-lebihan dalam mengkafaniku, sesungguhnya aku mendengar Rasulallah SAW bersabda, janganlah bermewah-mewahan dalam berkafan sebab yang demikian itu menghimpit dengan keras.”

Kemudian Ali berpesan lagi: “Bawalah aku di antara rakyat. Jangan terlalu cepat, juga terlalu lambat. Jika aku memiliki kebaikan, niscaya (dengan membawa aku ke hadapan mereka) kalian telah mensegarakan aku menuju kebaikan itu. Jika aku memiliki keburukan, kalian telah mengantarkan aku untuk bertemu dengannya sebelum aku dihisab.”

Amr bin Ash, radiallau anhu.

Pada tahun 43 hijriyah, Amr bin Ash menemui kematiannya saat ia menjadi gubernur di negeri Mesir. Pada hari-hari terakhir menjelang kematiannya, ia berkata, “Aku dulu seorang kafir yang paling keras…. Aku juga orang terkeras pada Rasulallah SAW. Sekiranya aku mati ketika itu, aku pasti masuk neraka. Kemudian, aku berbaiat kepada Rasulallah SAW. Tak ada manusia yang paling aku cintai melebihi beliau SAW. Tak ada yang … Sekiranya aku diminta untuk membuat naat (pada saat kematiannya), niscaya aku tak mampu. Sebab, aku tak pernah bisa berhenti menyeka airmataku sebagai kekagumanku padanya. Sekiranya pada saat itu aku mati, aku mesti masuk syurga…. Kemudian aku diuji setelahnya dengan kekuasaan… dan dengan hal-hal yang aku tidak tahu, apakah akan menolongku atau membebani aku” Kemudian, Amr bin Ash mendongakan kepalanya ke langit, dan berkata,

“Ya Allah… tak ada lagi (alasan) pembebas….. Sehingga aku dapat meminta maaf. Tak ada lagi kekuasaan sehinga aku minta tolong. Sekiranya Engkau tidak merahmati aku, nicaya aku termasuk orang-orang yang celaka!!” Begitulah selalu ia memohon ampun kepada Tuhannya, hingga ajal menjemputnya dan ia mengucapkan, “La Ilaha Illa Allah…”

Diriwayatkan bahwa sebulan sebelum kematiannya, anaknya berkata padanya, “wahai ayah… engkau pernah berucap kepada kami…. semoga kami dapat bertemu sesorang yang cerdas yang dapat menceritakan suasana saat kematian. Engkaulah orang itu, ceritakan pada kami bagaimana kematian? Maka, Amr bin Ash berkata, “Wahai anakku, seakan-akan di punggungku ada lemari yang menindih, dan seakan akan bernafas dari lubah jarum ..

Huzaifah bin Yaman, radiallahu anhu.

Pada suatu hari di tahun ke tiga puluh enam hijriyah…. Huzaifah dipanggil menghadap-Nya. Saat ia berusaha untuk bersiap-siap menuju perjalanan ke negeri akhirat, masuk sejumlah sahabat ke kamarnya… Ia bertanya pada mereka. “Apakah kalian datang membawa kain kafan?” Mereka menjawab, “Ya” Dia berkata, “Tunjukan padaku!” Setelah melihatnya, ia mendapati kain kafan itu masih baru…. Dengan susah payah ia berucap, “Kain kafan apa ini? Sungguh aku hanya butuh dua helai kain putih yang tak terjahit…Sesungguhnya aku tidak menggunakannya di kuburan kecuali hanya sebentar hingga aku mengganti keduanya dengan yang lebih baik… atau yang lebih buruk.

Selanjutnya, dia mengucapkan kalimat yang tak jelas.. Para sahabatnya berusaha mendengarkan… ia berucap: “Selamat datang kematian. Kekasih yang datang dengan membawa rindu. Tak akan beruntung mereka yang menyesal (di hari ini).

Ruhnya kemudian terbang menuju Allah. Itulah salah satu hamba yang paling bertakwa….

Muadz bin Jabal, radiallahu anhu.

Sampailah Muadz bin Jabal ke ajalnya. Ia dipanggil untuk bertemu Allah…. Pada saat sakratul maut, setiap perasaan yang sesungguhnya akan mencuat, dan terucap di lidah seseorang, sekiranya ia masih dapat bicara. Ucapan yang dapat dikatakan sebagai kesimpulan dari perjalanan hidup seseorang. Pada saat-saat seperti itu, Muadz mengucapkan kalimat yang sangat menakjubkan yang mengungkap cita-cita seorang mu’min. Ia menghadap ke langit, seakan berdialog dengan Tuhannya. “Ya…. Allah, aku dulu sangat takut pada-Mu. Tetapi hari ini aku ingin bertemu dengan-Mu. Ya… Allah, sesungguhnya Engkau Maha Tahu bahwa aku tidak mendahulukan dunia untuk akheratku.”

Sa’ad bin Abi Waqash, radiallahu anhu

Pada suatu hari di tahun lima puluh empat hijriyah, Sa’ad bin Abi Waqash telah berusia di atas delapan puluh tahun. Setiap hari ia berharap segera menemui kematiannya. Salah satu anaknya menceritakan, “Suatu hari kepala bapakku aku letakan di pangkuanku, dia bernafas setengah-setengah. Aku menangis. Dia berkata, Apa yang membuatmu menangis, wahai puteraku? Seungguhnya Allah tidak akan mengazabku selama-lamanya. Aku yakin aku adalah penduduk surga.

Suatu kali, Rasulallah SAW telah memberinya kabar baik, dan dia beriman dengan kabar itu yaitu bahwa ia tidak akan diazab karena ia termasuk ahli surga. Nampaknya, ia ingin bertemu dengan Allah dengan mengumpulkan semua bekal yang ia punya. Ia kemudian menunjuk ke arah lemari. Kemudian lemari itu dibuka. Di dalamnya terdapat kain yang sudah sangat lusuh dan robek sana-sini. Ia meminta keluarganya untuk mengkafankannya dengan kain itu, seraya berkata, “Aku berjuang melawan orang-orang Musyrik pada perang Badr (dengan pakain ini), dan aku menyimpannya untuk hari ini!”

Bilal bin Rabah, Sang Muadzin Nabi

Ketika Bilal didatangi kematian… Istrinya berkata, “sungguh kami akan sangat bersedih.” Bilal membuka kain yang menutupi wajahnya, saat itu ia dalam sakratul mautnya. Dia kemudian berkata, “Jangan kau katakan demikian. Katakanlah, sungguh kami akan sangat bahagia” Kemudian dia berkata lagi, “Besok aku akan bertemu pujaanku, Muhammad SAW dan para sahabatnya.”

Abu Dzar al-Ghifari, radiallahu anhu.

Ketika Abu Dzar al-Ghifari mendekati kematiannya, istrinya menangis. Abu Dzar bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sementara engkau mati di negeri yang tandus begini, sementara kita tidak punya kain untuk mengkafanimu”.

Dia kemudian berkata, “Tak usah bersedih. Aku beri kabar gembira untukmu. Suatu hari aku mendengar Rasulallah Saw bersabda, aku dan para sahabat lainnya ada di situ, “Di antara kalian akan ada yang mati di tempat yang tandus dan disaksikan oleh sejumlah orang-orang beriman”. Tak ada seorangpun dari para sahabat itu yang mati di padang tandus begini. Mereka meninggal di perkampungan dan di tengah-tengah masyarakat. Akulah yang akan mati di tempat tandus ini. Demi Allah, aku tidak berdusta.. tunjuki aku jalan..” Istrinya berkata, “Rombongan haji sudah berangkat, dan aku tak tahu lagi harus ke jalan mana”.

Di padang yang tandus itu, tiba-tiba ada serombongan kafilah lain yang lewat. Demi mendengar suara tangisan dari balik gubuk yang kecil, mereka berhenti dan bertanya-tanya, ada apa? Seseorang di antara mereka mengenali, subhanallah, ini Abu Dzar, sahabat Nabi yang mulia. Mereka menghentikan perjalanannya dan mengurus seluruh prosesi pemakaman Abu Dzar.

Abu Darda, radiallahu anhu.

Ketika Abu Darda menemui kematiannya, ia berkata:

Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri untuk seperti aku saat ini? Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri untuk seperti aku hari ini?Sudahkah setiap orang mempersiapkan diri seperti aku detik ini?

Kemudian Allah mencabut ruhnya.

Salman Al-Farisi, radiallahu anhu.

Salman al-Farisi menangis saat hendak menemui kematiannya. Ia kemudian ditanya oleh kelaurganya: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia berkata, “Rasulallah saw telah memprediksi bahwa perbekalan kita (untuk mati) seperti perbekalan orang berkendara. Sementara di sekelilingku hanya ini perbekalanku.

Ada yang berkata, “Waktu itu di sisi Salman al-Farisi ada ijanah, jafnah dan muthaharah. Ijanah adalah becana (bak) tempat dimana air dikumpulkan. Jafnah: tempat mengumpulan makanan dan air. Al-Muthaharah adalah becana (bak) tempat orang mengambil air yang suci.

Anas bin Sirrin berkata, “Anas bin Malik hadir saat Salman al-farisi menemui kematiannya. Ia berkata, “Talqinkan aku dengan La Ilah Illa Allah, mereka tetap mengucapkan itu hingga ajal menjemputnya.”

Abdullah bin Mas’ud:

Ketika Abdullah bin Mas’ud menemui kematiannya, ia memanggil puteranya: “Ya Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, aku ingin berpesan padamu tentang lima hal. Jagalah demi menjalankan pesanku ini. Pertama: Hilangkanlah rasa putus asa dari hadapan orang banyak, sebab demikianlah kaya yang sesungguhnya.

Kedua: Tinggalkan mengemis (untuk kebutuhan hidupmu) dari orang lain, sebab yang demikian itu adalah kemiskinan yang kau datangkan sendiri. Ketiga: Tinggalkan hal-hal yang kau anggap tak berguna. Jangan sekali-kali sengaja kau mendekatinya. Keempat: Jika kau mampu, janganlah sampai terjadi padamu satu hari di mana hari itu lebih tidak lebih baik dari kemarin. Usahakanlah. Kelima: Jika engkau shalat, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Resapi dan renungkan seakan engkau tak akan shalat lagi setelah itu.

Posted in Islam, Lesson, My angle

Bulan Cinta

Yup, kurang dari seminggu lagi bulan cinta itu akan datang, insyaAllah.
Sudahkah kita bersiap ? Bak menyambut pujaan hati yang akan datang berkunjung ? 😀

Bersiap apa sajakah kira-kira?

1. Fisik, jaga kesehatan supaya tidak tepar pas ramadhan. Pola makan pas puasa sebisa mungkin terjaga dengan baik, siapkan diri untuk menahan nafsu bertubi-tubi melihat makanan yang luar biasa beragam pada saat ramadhan nanti 😀
Minum air putih jangan lupa, ekstra.

2. Ilmu, persiapkan ilmu2 penunjang agar ibadah ramadhan kita efektif. Incar pahala amal yang besar.
Walaupun tidur bisa bernilai pahala, tentu saja banyak ibadah lain yang pahalanya lebih besar, tilawah, shalat sunnah, i’tikaf, mabit, silaturrahim, bahkan kerja, belajar dan bikin tugas 😀
Baca-baca tentang fiqh puasa dari buku atau internet.

3. Mental, kuatkan hati, dekatkan diri padaNya, jauhkan diri dari hal-hal yang bisa merusak puasa. Latihan dari sekarang! Siapkan diri untuk teguh pada saat puasa.

4. Target, buatlah target-target pribadi untuk bulan puasa nanti, mulai dari kuantitias ibadah, macam2 ibadah yg ingin dilakukan, target harian. Buatlah sesuai dengan kemampuan dan ke-favorite-an.
Target membuat waktu kita tidak berlalu begitu saja. Jangan ragu untuk melakukan adjustment, mengurangi yang tidak efektif, dan menambah amal-amal yang lebih baik.

Yah, jika memang yang datang itu cintamu, maka pasti kau akan mempersiapkan dirimu dengan sungguh-sungguh. Tak akan mau waktu yang sedikit bersamanya berlalu dengan sia-sia. Menikmati detik-detik bersamanya dan membuat setiap detik berarti 🙂


Ya Allah, sampaikanlah umur kami di bulan ramadhan, berikanlah kami kekuatan dan kesehatan bersamanya nanti, susupkan selalu cinta kami kepadaMu di dalamnya, dan jadikan Ramadhan nanti lebih baik dari pada sebelumnya.
Aamiin.

Selamat datang Ramadhan, Selamat datang cinta. 🙂

Posted in Mellow, My angle

AYAH

Tiba- tiba ingat ayah hari ini (8/7/11). Saya dan keluarga besar memanggil KAKEK kami, ayah dari mama, dengan sebutan AYAH. Entah kenapa, saat isya tadi saya tiba-tiba rindu dengan ayah. Rindu yang “aneh”, kuat dan mampu membuat kelenjar air mata saya bekerja 😦

Saya sebenarnya tidak begitu lama mengenal beliau, karena beliau sudah berpulang ketika saya berumur 8 atau 9 tahun. Cerita-cerita dari mama, amak (nenek), paman dan bibi saya lah yang menguatkan karakter Ayah dalam benak saya. Beliau adalah orang yang berani dengan hobi yang mulia, yaitu mengajar. Beliau berjuang sangat keras agar berdiri sebuah masjid di lingkungannya di Muara Labuh dan beliau dicintai ketika menjadi datuak. Datuak Rajo Gunuang Padang, itulah gelar beliau.

Namun sewaktu saya kecil, ayah sebenarnya sosok yang membuat saya segan setengah mati 😀 Walaupun beliau sering bercanda dengan cucu-cucunya, tapi ayah tetap sangat dihormati. Mungkin hal ini yang membuat saya merasa agak susah untuk lebih dekat. Tapi suatu ketika, ketika saya berumur sekitar 8 tahun, saya dan ayah sedang berdiri di pinggir jalan raya, di depan pintu gerbang komplek perumahan PLN di Padang Panjang, tempat tinggal saya waktu itu. Kita jalan-jalan dari rumah sampai ke gerbang, saya tak begitu ingat apa persisnya yang kita lakukan waktu itu. Tanpa sadar ketika ayah ada di belakang saya, saya tiba-tiba mengalungkan tangan ayah dari belakang melalui pundak dan leher saya. Saya nyaman sekali, dan sepertinya ayah membiarkan saja saya berlaku seperti itu. Sesaat yang nyaman itu, saya lupa kalau yang mengalungkan tangan dari belakang adalah ayah. Ketika saya sadar, saya langsung melepaskan tangan ayah dan kembali berlaku biasa karena segan. hehe.

Satu kebiasaan setiap ayah menginap di rumah saya adalah, setiap habis shalat magrib, saya harus ke kamar ayah untuk diajar mengaji. Sering sekali saya malas untuk hal ini, sering mencari-cari alasan, yang gagal, dan akhrinya tetap saja menjalaninya. Apalagi ayah waktu itu tidak peduli kalau saya masih di tahap iqra’, beliau langsung saja mengajarkan saya baca alQuran. Terbata-batalah saya membacanya. Namun yang aneh adalah, sesegan apapun saya pada ayah, tak pernah sekalipun beliau memarahi saya. Semalas apapun saya mengaji, tetap saja setelah mulai mengaji, hilanglah semua rasa malas tadi. Seberat apapun untuk ke kamar ayah, tetap saja waktu berjalan sangat cepat ketika saya diajar. 🙂

Namun waktu akhirnya mengijinkan masa tua menyusul semangat beliau. Beliau mulai sering sakit dan keluar masuk rumah sakit. Tetap saja, umur saya waktu itu, belum mengijinkan saya untuk mengerti dan bersedih. Ketika sakit beliau semakin parah, beliau semakin lama menginap di rumah sakit. Satu momen yang saya ingat adalah, ketika kondisi beliau sedang kurang baik, anggota keluarga yang mengelilingi beliau waktu itu mengguratkan kesedihan di wajah-wajah mereka. Pada saat itu ayah menanyakan dan memanggil saya. Otomatis semuanya menyuruh saya mendekat. Dengan perasaan tak enak, umur masih jadi excuse saya disini, saya mendekati beliau. Tak ada pesan khusus yang saya ingat, hanya tangan-tangan lemah yang mengalirkan sayang berlimpah ketika menyentuh kepala saya.  Anggota keluarga yang wanita di sekitar saya mulai menangis melihat kejadian itu. Saya tidak begitu mengerti.

Saya hanya ingat ketika mama pulang dari Padang membawa kabar itu, saya ikut sedih, tapi belum mengerti artinya kehilangan. Padahal kakak sepupu saya menangis seketika saat mendengarnya. Saya masih ingat ketika rumah ayah di kampung dipenuhi orang-orang yang takziah dan banyak sekali orang yang tidak saya kenal menangisi kepergian beliau.

Seiring waktu, cerita-cerita tantang ayah banyak sekali saya dengar dari keluarga. Ketegasan beliau yang tidak bisa ditawar, terutama soal kehormatan dan pergaulan anak-anaknya yang mayoritas perempuan. Tapi dibalik ketegasannya, tak sekalipun beliau memukul anak-anaknya. Keberanian beliau pada zaman PRRI, sampai-sampai beliau jadi salah satu orang yang dicari-cari oleh tentara PRRI saat itu karena beliau tidak mau begitu saja mengikuti perintah-perintah mereka. Sampai cerita tentang gigi beliau yang sehat selalu, karena tidak pernah makan yang macam-macam dengan berlebihan 😀

Cerita demi cerita semakin menguatkan image beliau di benak saya. Dan suatu ketika, saat saya sudah cukup dewasa untuk memahami semuanya, saya dan keluarga besar ziarah ke makam beliau. Setelah membersihkan makam beliau, sambil berdoa, entah kenapa mata saya jadi basah dan tak lama, aliran deras berpacu keluar. Kenangan yang tertanam membuat rasa rindu saya membuncah. Keluarga agak heran melihat saya seperti itu, tapi mereka juga ikut terbawa kesedihan.

Cerita keluarga tentang ayah yang menyayangi saya, bahwa ayah sangat ingin melihat cucu laki-laki satu-satunya dari anak-anak perempuannya, tumbuh dewasa, bahwa ayah berharap sangat tinggi kepada saya, membuat kasih sayang ayah semakin saya rasakan walaupun beliau sudah tidak berada disini.

Ya Allah, Ya Rahim, Ya Ghaffar, ampunilah segala dosa-dosa ayah, terimalah segala amal kebaikan ayah. Berikanlah ayah kelapangan di alam barzah, jauhkanlah ayah dari segala siksa-Mu. Dan kumpulkanlah kami semua nanti di surga-Mu… Aamiin…aamiin…ya Rabbal ‘aalamiin…

Posted in Books, My angle, Novel

Ranah 3 Warna

Hal pertama yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah ceritanya berlatar di Maninjau Sumatera Barat, kemudian dilanjutkan di Bandung. Karena saya berasal dari Bukittinggi dan menetap di Bandung, imajinasi cerita ini semakin nyata di benak saya 😀 Tapi, tentu saja hal itu tidak menjamin akan membuat kita betah berjam-jam memelototi huruf-hurufnya. Ada hal lain yang lebih penting, lebih kuat.

Gaya bahasa pengarang cukup berbeda, mungkin karena darah minangnya, membuat kita tergelitik untuk mendalami novel ini. Konfliknya cukup kuat dan terasa mendalam, membuat mata saya ingin cepat-cepat meloncat ke paragraf berikutnya saking tegangnya 😀 . Mungkin sedikit yang agak mengganjal hati saya adalah, klimaks utama yang terjadi jauh di tengah-tengah cerita, membuat akhir cerita jadi “kalah” menegangkan. Walaupun, bagian akhir dibumbui hal-hal lain yang membuat kening kita berkerut, sehingga tetap menarik untuk dibaca.

Alif Fikri (inisial namanya sama dengan sang pengarang buku :D) adalah seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di sebuah pesantren Pondok Madani (PM). Keinginan untuk melanjutkan pendidikannya yang begitu tinggi, membuat ia berusaha mati-matian agar bisa lulus UMPTN. Ia menepiskan anggapan orang yang pesimis bahwa ia tidak akan lulus. Mantra yang selalu dijaganya semenjak berada di PM adalah “Man Jadda Wajada”, “siapa yang bersungguh-sungguh, pasti mendapat”.

Tantangan sebenarnya muncul ketika Alif akhirnya berhasil lulus di sebuah universitas negeri di Bandung. Mantra andalannya ternyata tak cukup lagi untuk menjaga semangatnya. Cobaan yang datang membuatnya terpuruk, sampai suatu ketika ia diingatkan tentang sebuah mantra yang dikenalnya, “Man shabara zhafira”, “Siapa yang bersabar akan beruntung”. Dua mantra kunci inilah yang membuat Alif bisa meningkatkan kualitas kehidupannya sebagai manusia. Mimpi-mimpinya yang tinggi pun akhirnya bisa dicapainya dengan jalan yang tidak ia duga-duga. Alif bisa hidup mandiri di Bandung dan bahkan kegigihan dan kesabarannya mengantarkan ia berpetualang ke Kanada.

Bandung, Amman Yordania dan  Saint-Raymond Kanada adalah Ranah 3 Warna yang dijelajahi Alif di masa kuliahnya. Namun, menurut saya, Bandung lah yang membentuk kepribadian Alif sesuai dengan mantranya. Konflik-konflik terberat yang membangun karakternya, terjadi pada saat dia berada di Bandung.

Kasih sayang orangtua yang tak pernah putus sangat kuat diceritakan dalam novel ini. Ayah Alif berjuang dengan caranya sendiri di tengah keterbatasan ekonomi. Rasa sayangnya mengalir deras kepada anak kebanggaannya. Mulai dari “si hitam”, “bebek”, sampai “surat rahasia” kepada Bang Togar, menguatkan bahwa memang “kasih orang tua itu sepanjang jalan”. Begitu juga keteguhan Amaknya dalam merawat anak-anaknya.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah, bahwa kesungguhan dan kesabaran pada akhirnya menuntun Alif pada penggalian potensi utamanya, sehingga perjuangan hidupnya menjadi fokus dan efektif. Potensi utamanya inilah yang senantiasa diasahnya, sehingga pada akhirnya “memuluskan” langkahnya untuk mencapai impiannya lewat jalan-jalan “ajaib”.

Kisah Alif memberikan beragam hikmah kepada pembacanya, membuat kita diingatkan kembali untuk berani bermimpi, setinggi-tingginya, dan bersemangat untuk mengejarnya dengan kesabaran. Petuah-petuah guru-gurunya di PM sangat melekat dan berguna dalam menjaga kesungguhan hidup. Novel ini memberi energi positif yang membuat pembaca mendapatkan semangat luar biasa dalam menghadapi tantangan.

 

“Hidupku selama ini membuatku insaf menjinakkan badai hidup, “mantra” man jadda wajada saja ternyata tidak cukup sakti. Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi bisa juga puluhan tahun.

Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa, dan sabar yang berlebih-lebih.

Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh-sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.

Sabar itu awalnya terasa pahit, tetapi akhirnya lebih manis daripada madu. Dan alhamdulillah, aku sudah meneguk madu itu. Man shabara zhafira. Siapa yang sabar akan beruntung.”

AF, di puncak Saint-Raymond

Happy Reading ! 🙂

Posted in Islam, Lesson, Re-Post

Kultwit Ustadz Salim A Fillah tentang Sya’ban

Bismillahirrahmanirrahim

Berikut kultwit ustadz Salim A Fillah tentang bulan #Sya’ban, semoga bisa menjadi pencerah bagi kita semua.

 

1. #Sya‘ban adalah bulan ke-8 dalam Hijriah, terletak antara 2 bulan yang dimuliakan yakni Rajab & Ramadhan. Tentangnya RasuluLlah bersabda:

2. ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاس عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ #Sya‘ban; bulan yang sering dilalaikan insan; antara Rajab & Ramadhan.

3. وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ#Sya‘ban adalah..

4. ..bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb Semesta Alam; maka aku suka jika amalku diangkat, sedang aku dalam keadaan puasa. #Sya‘ban

5. (HR. Ahmad dan Nasa’i, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 1898) #Sya‘ban

6. Karena itu, berdasar riwayat shahih disebutkan bahwa RasuluLlah SAW berpuasa pada sebagian besar hari di bulan #Sya‘ban. ‘Aisyah berkata:

7. فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

8. “Tak kulihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasanya dalam sebulan penuh, selain di bulan Ramadan. Dan tidak aku lihat..” #Sya‘ban

9. ..bulan yang beliau paling banyak berpuasa di dalamnya selain bulan #Sya‘ban. (HR Al Bukhari & Muslim)

10. #Sya‘ban: Dalam Shahih Al Bukhari (1970) ada tambahan dari ‘Aisyah: “Tidak ada bulan yang Nabi SAW lebih banyak berpuasa di dalamnya…

11. …selain bulan #Sya‘ban. Sesungguhnya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.”

12. Maksud hadits: beliau berpuasa pada sebagian besar hari-hari bulan #Sya‘ban, sebagaimana banyak riwayat lain yang menyatakan demikian.

13. #Sya‘ban: Dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang bisa mengatakan ‘berpuasa sebulan penuh’ padahal yang dimaksud adalah..

14. ..’berpuasa pada sebagian besar hari di bulan itu.’ Demikian keterangan Ibnu Hajar Al ‘Asqalany dalam Fathul Bari, 4/213. #Sya‘ban

15. Maka berpuasa di bulan #Sya‘ban adalah utama, karena: 1}’Amal-‘amal manusia (secara tahunan) sedang diangkat ke hadapan Allah SWT.

16. 2} #Sya‘ban ialah bulan yang disepelekan; beramal & menghidupkan syi’ar di saat manusia lain lalai memiliki keutamaan tersendiri.

17. Selain kedua hal itu, puasa di bulan #Sya‘ban juga dimaknai sebagai: 3} Penyambutan & pengagungan terhadap datangnya bulan Ramadan.

18. #Sya‘ban: Karena ibadah-ibadah yang mulia, umumnya didahului oleh pembuka yang mengawalinya; Haji diawali persiapan Ihram di Miqat, …

19. …Shalat juga diawali dengan bersuci, berwudhu’, dan persiapan-persiapan lainnya yang dimasukkan dalam syarat-syarat shalat. #Sya‘ban

20. Hikmah lain: puasa di bulan #Sya‘ban akan membuat tubuh mulai terbiasa untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan optimal.

21. Sebab sering di awal Ramadhan banyak daya & waktu habis untuk penyesuaian diri; padahal tiap detik bulan mulia sangat berharga. #Sya‘ban

22. Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mencantumkan pendapat: puasa #Sya‘ban seumpama sunnah Rawatib (pengiring) bagi puasa Ramadhan.

23. Untuk shalat; ada rawatib qabliyah & ba’diyah. Untuk Ramadhan, qabliyahnya; puasa #Sya‘ban & ba’diyahnya; puasa 6 hari di bulan Syawal.

24. Keutamaan #Sya‘ban bisa kita lihat di: Tahdzib Sunan Abu Dawud, 1/494, Latha’iful Ma’arif, 1/244. Nah, bagaimana tentang Nishfu Sya’ban?

25. Hadits-hadits terkait Nishfu #Sya‘ban ini sebagian dikategorikan dha’if (lemah), bahkan sebagian lagi dikategorikan maudhu’ (palsu).

26. Khususnya hadits yang mengkhususkan ibadah tertentu atau yang menjanjikan jumlah & bilangan pahala atau balasan tertentu. #Sya‘ban

27. Tetapi, ada sebuah hadits yang berisi keutamaan malam Nisfhu #Sya‘ban yang bersifat umum, tanpa mengkhususkan ibadah-ibadah tertentu.

28. إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ #Sya‘ban

29. “Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam Nisfhu #Sya‘ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik..

30. …atau yang bertengkar dengan saudaranya.” HR Ibnu Majah (1390). Dalam Zawa’id-nya, riwayat ini dinyatakan dha’if karena… #Sya‘ban

31. ..adanya perawi yang dianggap lemah. TETAPI, Ath Thabrani juga meriwayatkannya dari Mu’adz ibn Jabal dalam Mu’jamul Kabir (215) #Sya‘ban

32. Ibnu Hibban juga mencantumkan hadits ini dalam Shahihnya (5665), begitu pula Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnadnya (6642). #Sya‘ban

33. Al-Arna’uth dalam ta’liqnya pada dua kitab terakhir berkata, “Shahih dengan syawahid (riwayat-riwayat semakna yang mendukung).” #Sya‘ban

34. Al-Albani juga menilai hadits Nishfu #Sya‘ban ini shahih {Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1144), Shahih Targhib wa Tarhib (1026)}

35. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun malam Nishfu Sya’ban, di dalamnya terdapat keutamaan.” (Mukhtashar Fatawa Mishriyah, 291)

36. #Sya‘ban: Karena itu, ada sebagian ulama salaf dari kalangan tabi’in di negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan & Luqman bin Amir…

37. …yang menghidupkan malam ini dengan berkumpul di masjid-masjid untuk melakukan ibadah tertentu pada malam Nishfu #Sya‘ban.

38. Dari merekalah kaum muslimin mengambil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, “Ini bukan bid’ah!” #Sya‘ban

39. ‘Ulama Syam lain, di antaranya Al-Auza’i, tidak menyukai perbuatan berkumpul di masjid untuk shalat & berdoa bersama di Nishfu #Sya‘ban.

40. Tetapi beliau -& ‘ulama yang lain- menyetujui keutamaan shalat, baca Al Quran dll pada Nishfu #Sya‘ban jika dilakukan sendiri-sendiri.

41. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al-Hanbali (Latha’iful Ma’arif, 151) & Ibn Taimiyah (Mukhtashar Fatawa Al Mishriyah, 292) #Sya‘ban

42. Adapun ‘ulama Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, & para pengikut Imam Malik menganggap hal terkait Nishfu #Sya‘ban sebagai bid’ah.

43. Tapi kata mereka; qiyamullail sebagaimana tersunnah pada malam lain & puasa di siangnya sebab termasuk Ayyamul Bidh ialah baik. #Sya‘ban

44. Demikian agar perbedaan pendapat ini difahami & tak menghalangi kita untuk melaksanakan segala ‘amal ibadah utama pada bulan #Sya‘ban.

45. Bulan #Sya‘ban adalah juga kesempatan tuk meng-qadha’ hutang puasa Ramadhan kemarin sebelum datangnya Ramadhan berikut. ‘Aisyah berkata:

46. كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ ، الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ

47. Aku punya hutang puasa Ramadan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan #Sya‘ban, karena sibuk melayani Nabi. (HR Al Bukhari-Muslim)

48. #Sya‘ban: Imam An Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 8/21) & Ibn Hajar (Fathul Bari, 4/189) menjelaskan; dari hadits ‘Aisyah ini disimpulkan:

49. Jika ada ‘udzur, maka qadha’ puasa bisa diakhirkan sampai bulan #Sya‘ban. Tanpa ‘udzur, menyegerakannya di bulan Syawal dst lebih utama.

50. #Sya‘ban: Bagaimana jika lalai; tanpa ‘udzur, hutang puasa belum terbayar, tapi Ramadhan baru telah datang? Jumhur ‘ulama berpendapat:

51. Dia harus beristighfar atas kelalaiannya pada kewajiban itu & harus bertekad untuk segera meng-qadha’-nya setelah Ramadhan ini. #Sya‘ban

52. Menurut mereka, tiada kewajiban khusus selain hal itu. Tetapi sebagian ‘ulama berpendapat agar si lalai menambahkan 1 hal lagi. #Sya‘ban

53. Yakni mengeluarkan 1/2 Sha’ makanan pokok (lk 1,5 kg) untuk tiap hari yang terlalai belum dibayar hutang puasanya tahun ini. #Sya‘ban

54. Ini sebagai pengingat atas kelalaiannya & dia harus tetap mengganti puasa yang terlalai diganti tahun ini pada tahun depannya. #Sya‘ban

55. Ini berdasar ijtihad beberapa sahabat Nabi SAW. Tak ada nash khususnya, tetapi ijtihad ini dianggap baik. (Fathul Bari, 4/189) #Sya‘ban

56. Jika masuk bulan #Sya‘ban, hendaknya kita saling mengingatkan (juga terutama pada kaum wanita) yang punya hutang puasa agar ditunaikan.

57. Sehari atau 2 hari terakhir #Sya‘ban dinamakan sebagai Yaumusy-Syakk (hari keraguan), sebab ketidakjelasan sudah masuk Ramadhan/belum.

58. #Sya‘ban. Nabi bersabda: لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ ، إلاَّ رَجُلاً كَانَ يَصُومُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ

59. “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang… #Sya‘ban

60. …yang (memang seharusnya/biasanya) melakukan puasanya pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” {HR Al Bukhari & Muslim} #Sya‘ban

61. Maknanya; terlarang untuk mengkhususkan diri berpuasa pada Yaumusy Syakk. Tetapi boleh bagi yang HARUS (nadzar, qadha’, dll).. #Sya‘ban

62. ..dan boleh juga yang BIASA (karena puasa Dawud, bertepatan Senin/Kamis, dll). Hikmah pelarangan itu sekedar sebagai pemisah..#Sya‘ban

63. …antara puasa Ramadhan yang fardhu dengan puasa sebelum/sesudahnya yang sunnah. (Syarh Muslim 7/194, Latha’iful Ma’arif 151) #Sya‘ban

64. Demikian Shalih(in+at) bincang kita tentang #Sya‘ban. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَعْبَانَ وَوَفِّقْنَا فِيهِ ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

65. Maafkan, banyak pertanyaan yang tak bisa ditanggapi satu persatu; tapi insyaaLlh semua terjawab dengan menyimak #Sya‘ban dari 1-65 ini;)

sumber: @salimafillah #sya’ban

Posted in Islam, Lesson, My angle

Sya’ban is here

Sya’ban menjelang, kurang dari sebulan lagi Ramadhan tercinta akan datang. Sya’ban adalah bulan terakhir untuk latihan sebelum menyambut tamu agung. Rasulullah SAW sangat mengistimewakan bulan kedelapan di tahun hijriyah ini.

Usamah bin Zaid berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada satu bulan seperti pada bulan Sya’ban.” Beliau menjawab, “Ia adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia. yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan saat amal diangkat menuju Tuhan, karena itu, aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR Abu Daud dan al-Nasai).

Rasulullah memperbanyak puasa sunnah beliau pada bulan ini, lebih banyak daripada bulan-bulan lain.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidaklah saya melihat  beliau memperbanyak puasa dalam suatu bulan seperti banyaknya beliau berpuasa pada bulan sya’ban.” (HR. Bukhari)

Yuk, perbanyak amal agar terbiasa saat Ramadhan datang. Shaum sunnah (senin-kamis, ayamul bidh, dawud), shalat sunnah (rawatib, Qiyamullail, Dhuha), shadaqah, dan ibadah lainnya.

Wallahu’alam

Posted in Hikam, Lesson, My angle

Loser’s Win !

Mata dan pujian kita biasanya hanya tertuju pada sang pemenang…

Pernahkah kita mencoba melihat betapa “besar”nya sang peng-kalah? 😀

Tetap bertahan dan bertanding walaupun kekalahan sudah tak bisa dihindari, menurut saya, adalah salah satu bentuk kemenangan.

Misal, dalam pertandingan sepak bola. Ketika ada tim yang trus berjuang karena mengejar kemenangan saat skor masih imbang atau skor berbeda tipis, itu hanyalah sebuah hal wajar. Tapi ketika ada tim yang tetap bermain walaupun sudah ketinggalan jauh, ini merupakan pemandangan “aneh”. Kenapa mereka masih mengejar bola, padahal kemungkinan menang sudah tidak ada?

Seseorang terus berjuang walaupun kadang kita tidak melihat kemenangan dan kejayaan di ujungnya. Kenapa?
Karena mereka melihat tujuan yang lebih jauh dari kita. Mereka melihat target yang jauh lebih mulia daripada sekedar kalah dan menang.

Kadang target yang pendek, kecil dan kasat mata, malah menutup penglihatan kita dari tujuan yang sebenarnya. Tujuan dan target yang jauh tinggi melebihi batas-batas langit akan membuat kekalahan di bumi menjadi tak berarti.

Karena kemenangan sejati di dunia bukan dari hasil, tapi dari proses. Proseslah yang akan menjadi modal kemenangan sejati kita nanti. Hasil? itu urusan-Nya.